Program Studi S-1 Tata Kelola Seni, Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta bekerjasama dengan National Geographic Indonesia Menyelenggarakan Bincang Redaksi-32. Kegiatan Bincang Redaksi-32 mengusung  “Program Studi S-1 Tata Kelola Seni, FSR ISI Yogyakarta dan National Geographic Indonesia Bekerjasama Menyelenggarakan Bincang Redaksi-32: Sosok perempuan dalam kedaulatan budaya peramu, peladang, pesawah, dan maritim yang kini tercampakkan”. Dalam Bincang Redaksi kali ini akan menghadarikan Narasumber, Prof. Dr. I Wayan Dana, M. Hum, Guru Besar di Jurusan Tata Kelola Seni FSR ISI Yogyakarta dan Mahandis Yoanata Thamrin selaku Tuan Rumah Bincang Redaksi, Managing Editor National Geographic Indonesia. Bincang Redaksi-32 akan dilaksanakan pada, Sabtu, 21 Agustus 2021. Acara ini terbuka bagi masyarakat umum dan tertarik mengikutinya silakan mendaftar via pranala bit.ly/bincangredaksi-32.

Poster Bincang Redaksi-32 menampilkan patung perunggu Dewi Sri atau Dewi Padi sebagai simbol kesuburan, yang kerap dijumpai di Jawa dan Bali. Dalam tradisi Hindu Bali, sosoknya dikenal juga sebagai Lakshmi, Dewi kekayaan dan kemakmuran keluarga. Dia begitu anggun memegang batang padi yang menjuntai di kedua tangan. Sang Dewi duduk dengan posisi ardha padmasana, wajahnya tampak berseri dengan tatapan meditatif.

Kita tidak lagi mengenal sosoknya. Kita mungkin juga telah kehilangan peta keragaman lanskap budaya pangan yang memakmurkan. Padahal, leluhur kita begitu menghormati dan memuliakan santapan. Pangan dan segala cita rasanya tidak sekadar menandaskan lapar, tetapi juga pengiring doa-doa nan sakral.

Nenek moyang Nusantara mengajarkan tetang filosofi Ibu Bumi dan Bapa Angkasa—siapakah mereka? Mengapa kehadiran mereka dalam tarian dan upacara begitu dimuliakan oleh leluhur kita?

Dibandingkan seribu tahun silam, hari ini kita memiliki kemajuan dalam teknologi prakiraan cuaca, teknologi pertanian, sampai teknologi pengolahan pangan. Namun, kini kita tak lagi mandiri dan bangga dengan ketahanan pangan Nusantara. Kita telanjur melupakan pangan sebagai kekuatan budaya; pangan sekadar pemuas hasrat lidah dan perut belaka.

Apabila pangan membentuk jatidiri kita, bagaimana kecerlangan dalam tradisi pangan Nusantara bisa kembali berjaya? Bagaimana upaya kita menemukan kembali energi penciptaan kemakmuran alam semesta? Berbagai jawaban atas pertanyaan tersebut akan ditemukan di dalam Bincang Redaksi-32.