UKM Paduan Suara
Resitalis Heri Kristian Buana Tanjung di depan anggota UKM Paduan Suara ISI Yogyakarta saat acara berakhir

Unit Kegiatan Mahasiswa  (UKM) Paduan Suara ISI Yogyakarta, pada  Rabu malam, 24 April 2013 yang  lalu, tampil di auditorium Jurusan Musik dalam Resital Uji Kompetensi Tugas Akhir (TA) Program Studi S-1 Seni Musik dari mahasiswa Konsentrasi Komposisi Musik Heri Kristian Buana Tanjung.

Resital malam itu dihadiri oleh orang tua dan keluarga resitalis, masyarakat kota Yogyakarta, mahasiswa ISI Yogyakarta,  dan karena didukung oleh tim produksi yang cukup besar,  maka pada saat yang sama anggota tim tersebut juga memberi dukungan sebagai audiens. Di samping pejabat Jurusan Musik, yaitu Ketua dan Sekretaris Jurusan, hadir pula beberapa dosen Jurusan Musik, di antaranya ialah Chaerul Slamet  (Ketua Konsentrasi Komposisi Musik), dan Royke B. Koapaha, keduanya adalah pembimbing TA dan pengampu TA Komposisi Musik.

Resital komposisi musik yang dikemas dalam seting penyajian sedemikan rupa dengan melibatkan hampir semua unsur seni pertunjukan yang dikembangkan di Fakultas Seni Pertunjukan (FSP), secara umum tersusun dari tiga sesi. Sesi pertama ialah sajian tarian teatrikal yang tampaknya berfungsi sebagai ritual penyambutan tamu, dalam hal ini audiens, yang dilakukan di luar ruangan. Sajian teatrikal tersebut hanya diiringi oleh permainan solo cello, yang tampaknya bermain secara improvisatoris. Sesi kedua ialah penyajian komposisi berjudul Anestesi untuk paduan suara dan piano di atas panggung auditorium, karya Heru Tanjung. Panggung terisi penuh oleh penyanyi dan para pendukung lain. Di samping para penyanyi paduan suara yang  berbaris mendekati bagian belakang panggung, spasi yang berada di kiri dan depan, di antara kondakter dan kelompok paduan suara, diisi oleh beberapa orang yang duduk bersemedi yang masing-masing menghadapi sebuah lilin.

Dari perspektif audiens, komposisi  tersebut tersusun dari elemen-elemen musik vokal non konvensional, seperti  desahan, teriakan, dan pengucapan kata-kata atau kalimat resitatif secara acak, sementara itu bagian-bagian solo piano seperti pada introduksi dan interlude (musik tengah) menampilkan sesi-sesi figurative yang statis dengan harmon-arpeggioi, progresi akor, serta alur bass sederhana. Pengolahan komposisi vokal pada paduan suara tampaknya mengikuti  motif-motif piano.  Bagi para anggota UKM Paduan Suara dalam penyajian mereka selama ini, pengolahan komposisi  seperti ini mungkin merupakan tantangan yang baru, atau paling tidak jarang dijumpai.

Di tengah-tengah penyajian piano dan paduan suara, kadang tampil aksi-aksi teatrikal dari para pesemedi dan permainan alat tradisional, khususnya sebuah kecapi yang dimainkan dengan teknik-teknik yang tidak lazim. Walaupun audiens tampaknya mengharapkan eksplorasi yang lebih banyak dari penyajian tersebut namun setelah improvisasi yang monoton , pemain kecapi kemudian membawakan sebuah tema melodis yang sederhana untuk dilempar ke piano dan akhirnya paduan suara. Walaupun dikemas sedemikian rupa dengan berbagai elemen pertunjukan namun materi pokok dari resital tersebut ialah komposisi piano dan paduan . Secara umum, perubahan lamban dari dari sesi ke sesi pada komposisi tersebut telah menghadirkan kesan minimalis.

Sesi tiga ialah tradisi penutup yang biasa terjadi di akhir konser-konser musik klasik di ISI Yogyakarta, yaitu penyerahan karangan bunga sebagai tanda penghargaan, khususnya bagi pemeran utama konser.

Sebagaimana jarangnya calon lulusan konsentrtasi Komposisi Musik menyusun komposisi paduan suara, penyajian UKM Paduan Suara dalam kegiatan akademik Jurusan Musik maupun konser-konser ko-kurikuler, merupakan peristiwa yang  jarang terjadi sebelumnya. Konser-konser di Jurusan Musik biasanya melibatkan unit kegiatan internal Kelompok Kegiatan Mahasiswa (KKM), namun dalam konser ini keterlibatan sivitas akademika dari Jurusan yang berbeda, khususnya UKM Paduan Suara, merupakan  hal relatif dapat dikatakan baru.

Dikirim oleh: Andre Indrawan