Pameran Seni Rupa Dies Natalis XXXV – Lustrum VII Institut Seni Indonesia Yogyakarta “Seni Rupa di Era Revolusi Industri 4.0”

Pada hari Senin, 24 Juni 2019 bertempat di Galeri RJ Katamsi telah dilaksanakan pembukaan Pemeran Seni Rupa Dies Natalis XXXV-Lustrum VII ISI Yogyakarta yang di buka oleh Rektor ISI Yogyakarta dengan Ketua I Gede Arya Sucitra, S.Sn., M.A., dan kurator Bambang Witjaksono, M.Sn., Terra Bajraghosa, M.Sn., Dony Arsetyasmoro, S.Sn., M.Ds., Budi Hartono,S. Sn., M. Sn. Pameran ini akan berlangsung dari tanggal 24 Juni – 03 Juli 2019.

Tahun ini, tema utama dari peringatan Lustrum ke 7 ISI Yogyakarta adalah “Kecerdasan Buatan dalam Seni di Era Revolusi Industri 4.0”. Dijelaskan secara rinci maksud dari tema tersebut adalah melihat pencapaian yang sudah terjadi selama lima tahun dan perlu adanya refleksi menuju ke era revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 merupakan integrasi antara dunia internet secara daring dengan dunia usaha atau produksi di sebuah industri yang mampu mendukung semua bidang, salah satunya dalam dunia akademik.

Pameran Seni Rupa Dies Natalis XXXV/Lustrum VII Institut Seni Indonesia Yogyakarta 2019 adalah “Seni Rupa di Era Revolusi Industri 4.0” kali ini cukup istimewa. Pameran diikuti oleh alumni masing-masing program studi, mahasiswa, dan juga dosen di lingkungan Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pameran ini diikuti oleh 27  Alumni dan Dosen, 111  Mahasiswa dari Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.

Dalam dunia seni rupa global, sebenarnya aspek teknologi bahkan yang kini disebut revolusi industri 4.0 sudah sangat erat melekat pada pola, metode, proses dan tampilan visualnya. Pada event ini yang menjadi berbeda adalah karena tema revolusi industri 4.0 ini dikaitkan dengan dunia seni rupa secara akademik. Padahal, sesungguhnya secara sistematis seni rupa akademis masih bersandar pada pola seni modern. Bidang desain khususnya desain interior dapat dipahami sebagai salah satu produk dari revolusi industri. Perkembangan jaman berimbas pada bidang desain interior karena memunculkan material dan teknologi yang berbeda yang terus direspon oleh desainer. Desain interior yang dulunya hanya sebatas mendekorasi ruangan kini sudah berkembang menjadi tenaga spesialis/ahli yang spesifik yang memerlukan keahlian yang komplek mulai dari pengetahuan material, teknologi serta tren gaya hidup yang berkembang di masyarakat.Teknologi membuat segalanya berubah secara cepat sesuai keinginan penggunanya, termasuk selera masyarakat yang bisa berubah dengan cepat karena pengaruh derasnya arus informasi salah satunya melalui media sosial. Keberadaan media sosial menjadikan ajang eksistensi diri yang bisa dilakukan siapa saja, kapan saja dan dimana saja, termasuk dengan mengunggah tempat dengan desain yang menarik dan unik, hinggamuncul istilahtempat/lokasi yang instagramable. Para profesional di bidang desain interior dituntut bekerja secara kreatif, inovatif, dan multidisiplin untuk dapat memanfaatkan disrupsi teknologi guna menciptakan lingkungan binaan yang lebih baik. Keberandaan revolusi industri 4.0 membuat batas antara dunia digital, fisik dan biologis semakin tipis. Semua aktifitas berpusat pada penggabungan teknologi otomatisasi dan teknologisiber telah mengubah paradigma masyarakat terutama generasi milenial.

Pada Desain Interior sebagai sebuah bidang ilmu terapan, kepekaan seorang desainer pada keberagaman tututan konsumen/pasarsudah menjadi keharusan agar karyanya bisa terus aktual dimasyarakat. Era revolusi industri 4.0 bisa disepakati telah memunculkan karakteristik konsumen yang berbeda dengan tuntutan yang berbeda juga. Akan tetapi tidak bisa diabaikan bahwa sebagian masyarakat kita masih banyak yang belum tersentuh oleh revolusi industri ini, khususnya masyarakat marginal yang tidak memiliki akses pada teknologi karena faktor ekonomi. Oleh sebab itu desainer interior dituntut tetap bisa fleksibel dan akomodatif merespon kebutuhan masyarakat yang terus berubah tanpa mengabaikan perannya untuk tetap melayani semua kalangan masyarakat yg mungkin masih berada di zona revolusi industri 3.0 atau bahkan 2.0, karena perlu diingat revolusi industri muncul karena kebutuhan bukan untuk gagah-gagahan.

Teddy Rahardianto, desainer interior dan furnitur yang sekarang berdomisili di Osaka, Jepang menampilkan proyek perancangan lobi Burbank Suites Apartement di Cikarang Jakarta yang kental dengan gaya modern minimalis sesuai dengan tren yang diminati kaum urban saat ini. Keputusan untuk tinggal kota besar membuat Teddy dengan mudah menterjemahkan bahasa-bahasa desain yang elegan untuk diterapkan pada perancangannya. Sedang Puspa Candrajati melalui perusahaannya Kinanthi Royal Decor menampilkan mini photoboothuntuk wedding decoration. Karyanya memiliki branding yang kuat karena selalu konsisten mengggunakan material alami dan seting di luar ruangan (outdoor) dengan konsep natural tetapi tetap berkesan ekslusif dan elegan.

Para mahasiswa yang memilih ‘jalur internet’ ini pun berjibaku menghadirkan keunggulan karya sepenuhnya dengan sebagian masa tugas akhir dihabiskan untuk mempelajari sistem dan teknis medianya, selain menyiapkan rancangan visualnya. Gadget tertentu pun dihadirkan secara swadaya oleh mahasiswa dalam pameran tugas akhir untuk menunjang hal ini, baik membeli, meminjam, ataupun menyewa. Pemilihan tema besar Dies Natalis yang berkenaan dengan kecerdasan buatan memantik pikiran untuk kembali menilik karya-karya yang setidaknya menggunakan internet dalam distribusinya. Sangat disayangkan, namun hal ini adalah kenyataan, karya-karya nginternet ini mempunyai tingkat kesulitan berlapis untuk ditampilkan dalam sebuah pameran seni rupa. Lapis mendasar dan paling esensial adalah ketidakbisaan kami sebagai kurator untuk menyediakan gadget untuk menampilkan karya. Atau ketidak-sesuaian software yang kadang ketika ditampilkan hanya bersifat trial, dan sudah habis masa pakainya. Pada sisi karya, kadang yang tersedia hanya versi beta-nya. Alternatif lain adalah menampilkan versi luringnya, atau versi presentasinya dalam bentuk pemetaan-pikiran yang dicetak, namun hal ini juga akan mengikis sisi user experience-nya.

Di Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, pada era revolusi industri 4.0 masa kini, telah banyak karya Tugas Akhir mahasiswa yang mengacu pada sistem Internet of Things, atau setidaknya mempunyai tujuan pada sistem tersebut karena fokus sebenarnya adalah pada desain tampilan visualnya. Pada awal tahun 2000-an karya-karya desain berbasis digital seperti misalnya game, video pendek, dan tutorial interaktif, dirancang untuk tampil di layar komputer dan didistribusikan melalui bentuk fisik cakram padat. Satu dekade setelahnya, gagasan distribusi melalui medium fisik mulai bergeser pada distribusi melalui medium internet. Apa yang didistribusikan tidak lagi terbatas pada apa yang sebelumnya hanya bisa dipikirkan tampil pada layar (komputer), karena pada era telepon-pintar ini, hampir semuanya tampil melalui layar. Dan hal-hal tersebut, konten-konten yang didistribusikan tersebut, sudah pasti bersifat visual. Sifat visual ini, atau lebih tepat jika disebut ‘visualisasi informasi’ dalam ranah industri 4.0 , tidak hanya bersifat menghias atau mendekorasi suatu konten, namun juga mempermudah penggunaan konten itu sendiri dengan mengingat bahwa pada masa ini pemenuhan berbagai kebutuhan dan keperluan manusia modern ditunjang dengan adanya teknologi internet.

Pendidikan seni rupa, khususnya seni kriya, selalu berbanding lurus dengan perkembangan teknologi. Kemahiran dan kelihaian tangan dalam praksis seni kriya menjadi hal yang sangat vital dalam menciptakan produk kriya. Namun, hanya dengan mengandalkan kemahiran tangan saja tidaklah cukup untuk menghasilkan suatu produk kriya inovatif yang memiliki nilai tinggi. Keberadaan teknologi internet dalam revolusi industri 4.0 dapat dimanfaatkan oleh para kriyawan untuk mencari informasi dalam menggali dan menyempurnakan ide serta gagasan tanpa harus bersusah payah dan tentu meminimalkan biaya produksi yang dikeluarkan. Akan tetapi, apakah kecerdasan buatan akan mengeliminasi praktik-praktik pola kerja bidang seni kriya dan tergerus hilang ditelan zaman?  

Keberagaman serta kekayaan alam yang melimpah, sumber daya manusia, seni dan budaya warisan adiluhung yang dimiliki Indonesia merupakan modal yang tak ternilai bagi bangsa Indonesia. Kenyataannya, karya seni kriya dan proses kreatif pada era kecerdasan buatan tidak selalu hadir dengan kemasan praktik industrialisasi semata. Seni kriya hadir dan lekat pada masyarakat tradisi, tidak lepas dengan pola hidup, adat istiadat tempat mereka lahir dan tinggal. Adapun seni kriya juga bisa lahir dari suatu hal yang imajiner, spiritualitas, kontemplasi, dan sebagainya. Ketika kepiawaian tangan mampu menaklukkan canting, memainkan garis-garis dinamis penuh harmoni pada selembar kain, dan diulang kembali setelah proses pewarnaan, adalah proses kreatif yang belum tergantikan dengan cara mekanis mesin. Akan tetapi, di satu sisi kemajuan teknologi, seperti telepon seluler (handphone), juga menguntungkan bagi kriyawan. Dengan adanya telepon seluler (ponsel), cara marketing tradisional sudah mulai ditinggalkan. Para kriyawan dapat melakukan transaksi dengan kliennya hanya melalui ponsel, tanpa harus bertatap muka secara langsung. Demikian pula untuk urusan perbankan, misalnya, kriyawan dapat menggunakan aplikasi perbankan yang terdapat pada ponselnya.

Tradisi mengundang para alumni untuk berperan dalam event-event acara kampus, seperti Dies Natalis adalah sesuatu yang penting dan perlu dilestarikan karena mereka di luar kampus adalah tonggak, wajah kita semua dalam wacana art world seni kriya. Capaian artistik mereka selalu dilihat, dicatat, dan ditunggu kiprahnya, baik nasional maupun internasional. Alumni, khususnya Seni Kriya, diharapkan mampu menampilkan ide kreatif mereka setelah meninggalkan bangku perkuliahan. Pengalaman di luar kampus yang mereka peroleh, pola kerja berdasarkan riset merupakan bagian dari tata cara intim kerja mereka berkarya, sehingga akan terlihat dan tercermin pada setiap karya yang ditampilkan dalam berpameran nanti. Para alumni Seni Kriya yang turut berpartisipasi pada kesempatan kali ini, antara lain Endang Lestari, Carolina Rika Winata, Wahyu Hidayat (Gogon), Rudi Hendriatno, dan Apri Susanto, yang mewakili kriya keramik, kriya tekstil, kriya logam, dan kriya kayu. Sangatlah pantas bagi mereka untuk ikut meramaikan pameran ini. Tidak dipungkiri kiprah mereka selalu update dengan ide kreatif, dedikasi, usaha yang keras untuk menciptakan karya-karya inovatif.

Share Button

Tinggalkan Balasan