EMPO Interaktif, Suara gamelan bertalu-talu mengiringi kepergian Ki Sukasman di Mergangsan II/1308, Yogyakarta, kemarin. Prosesi pemakamannya berubah menjadi sebuah pentas wayang. Seorang dalang--diperankan oleh penari Miroto--memainkan anak wayang Semar, Togog, dan Batara Guru di kelir dengan tata cahaya yang digarap serius.

Tepat di depan kelir, tergolek sebuah peti mati terbungkus kain putih. Di dalam peti mati itu, terbujur jenazah Ki Sigit Sukasman, 73 tahun, seorang tokoh seniman pencipta wayang ukur. Tiga tokoh wayang ukur itu memang sengaja dimainkan untuk melepas kepergian penciptanya, Ki Sukasman, ke pemakaman.
Tak hanya Miroto, sebagai dalang yang menangis, tapi juga ratusan pelayat mencucurkan air mata menyaksikan adegan sangat mengharukan itu. Gendhing Tlutur yang dimainkan secara langsung oleh para murid Ki Sukasman semakin menambah suasana sedih. "Mas Kasman telah mencapai ukuran yang sejati," kata budayawan Sindhunata SJ saat melepas jenazah di rumah duka.
Ki Sigit Sukasman mengembuskan napas terakhir kemarin pagi pukul 07.00 di ruang perawatan intensif Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Ia sempat dirawat selama dua hari akibat keluhan sesak napas. "Beliau memang punya penyakit paru-paru," kata Bambang Paningron, anak angkat Ki Sukasman.
Ki Sigit Sukasman sejatinya bukan seorang dalang. Lelaki 73 tahun itu justru seorang perupa. Namun, kecintaannya terhadap wayang melebihi dalang mana pun. Tenaga, pikiran, bahkan seluruh hidupnya tercurah untuk dunia pewayangan.
Sejak kecil Sukasman memang akrab dengan wayang. Aktivitas harian Sukasman kecil selalu diisi dengan menggambar wayang. Ia bahkan memiliki sekotak wayang kertas, pemberian ayahnya.